SMAN 1 Cibadak

Vidya Dharma Anoraga

Berbicara masalah pendidikan, bicara masalah sekolah tidak akan lepas dari sebuah nilai. Semenjak sekolah dari PAUD sampai dengan perguruan tinggi kita selalu akrab dengan yang namanya nilai. Nilai adalah balasan yang diberikan setimpal dengan apa yang kita kerjakan di sekolah. Jika kita dapat mengerjakan soal 10 butir dengan benar maka kita akan dapat nilai 100. Jika hanya dapat mengerjakan 7 nomor dengan benar dari 10 soal maka kita dapat nilai 70. Sebagai anak yang normal tentu kita gembira sekali jika berhasil mendapatkan nilai 100. Begitu juga sebaliknya, jika mendapat nilai 50 kebawah pasti sedih, juga takut dimarahi orang tua. Kalau kita menonton film Doraemon pasti hafal dengan sosok Nobita yang selalu dimarahi ibunya karena sering bahkan setiap kali nilainya 0. Jarang kita jumpai Nobita mendapat nilai 100. Begitu juga dengan kita dalam kehidupan nyata, pasti mengalami hal yang demikian.

Di dalam masyarakat, nilai yang kita dapatkan pasti berimbas juga terhadap pengakuan orang lain. Jika kita sering dapat nilai bagus apalagi mendapat ranking di kelas sudah barang tentu masyarakat akan berbicara “Dia, anaknya bapak anu adalah anak pintar”, begitu sebaliknya, jika sering mendapat nilai jelek apalagi sampai sering tidak naik kelas pasti masyarakat berkata “Dia, anaknya bapak X anak bodo”. Itulah yang  terjadi di tengah-tengah kita.

Namun melihat fenomena yang terjadi sekarang, muncul kegundahan di hati saya, benarkah nilai yang terpampang di atas selembar kertas itu bisa dijadikan sebagai tolak ukur kecerdasan seseorang?

Kegundahan ini mulai ada semenjak saya memasuki SMA. Tak ada yang berbeda dari dulu, berangkat sekolah, mengikuti pelajaran, ujian kemudian mendapatkan ijazah yang disitu terpampang nilai-nilai hasil kerja kita. Yang mendapat nilai bagus tentu bangga, yang nilainya jelek memasang muka agak cemberut.

Tak terasa fenomena tersebut membuat anak-anak yang bersekolah sangat ingin mendapatkan nilai yang tinggi, di setiap pelajaran apapun yang menjadi topik pembicaraan adalah “kamu dapat nilai berapa?” bukan “apakah kamu faham tenteng materi A?” Zaman sekarang kita sudah peduli apakah kita faham atau tidak dengan apa yang diajarkan di sekolah, tapi yang kita pedulikan adalah “yang penting saya dapat nilai bagus”. Alhasil semua cara dilakukan, mulai dari membawa contekan saat ulangan, menjiplak pekerjaan teman yang pintar dsb. Pemahaman terhadap suatu ilmu sudah tidak dihiraukan. Bahkan ketika Ujian Nasional, seluruh siswa mengatur siasat dan trik agar dapat contek-contekan dan tidak ketahuan oleh pengawas. Dan pihak sekolahpun menghalalkan itu bahkan ada yang mendukung agar pamor sekolah tidak turun jika ada siswanya yang tidak lulus.

Hal serupa masih terjadi hingga saat ini, ketika saya memasuki bangku kuliah. Ketika pembagian Kartu Hasil Studi semua ramai membicarakan nilai. Yang dapat A bersorak riang, yang dapat nilai C cemberut bahkan sesekali menyalahkan dosen. Padahal nilai A kebanyakan didapat dari sebuah kebohongan, bukan hasil murni kemampuan dirinya.

Kalau ini yang terjadi, jika kualitas diri sudah dikesampingkan, nilai diatas selembar kertas lebih diutamakan daripada ilmu, bagaimana jadinya kualitas sumber daya manusia kita? Padahal nilai dalam ijazah hanya berfungsi sebagai formalitas saja. Ijazah SD berfungsi untuk mendaftar ke SMP, ketika mendaftar ke SMA apakah ijazah SD akan ditanyakan? ketika mendaftar ke Perguruan Tinggi apakah ijazah SMP diikutkan? ketika mendaftar pekerjaan apakah ijazah SMA diikutkan? apakah Transkrip nilai kuliah menjadi jaminan amannya posisi kerja? bukankah kalau kita kerja yang akan di nilai oleh atasan adalah kinerja, bukan nilai ijazah?

Nilai memang penting, namun jangan sampai kita lupa akan hakikat sesungguhnya mengapa kita belajar. Bukankah kita belajar untuk mencerdaskan diri? menggali ilmu pengetahuan sedalam-dalamnya? apalah arti nilai 100 jika ternyata nilai kita sesungguhnya hanyalah 50? So, raihlah nilai setinggi-tingginya dengan cara sejujur-jujurnya. Belajar bukan hanya untuk mendappat nilai saja, tetapi untuk menjadikan diri menjadi pribadi yang cerdas berilmu. [Fitrah Zain || http://fitranhebat.blogspot.co.id/2013/11/makna-sebuah-nilai.html]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post terkait

Pembinaan Awal Semester

.

UAS 2017